Rabu, 01 April 2009

KONSEP MRT (Mass Rapid Transit) SEBAGAI PENERAPAN PEMBANGUNAN TRANSPORTASI BERKELANJUTAN

Pendahuluan

Dalam klasifikasinya, bidang perhubungan dikelompokkan menjadi 4 sub bidang, yaitu: perhubungan darat, laut, udara, serta pos dan telekomunikasi. Untuk perhubungan darat terdiri dari jalan raya, rel, sungai, danau, dan penyeberangan. Dari berbagai fasilitas perhubungan, jalan raya merupakan kebutuhan yang memerlukan perhatian lebih karena merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat dan juga menyerap anggaran pembangunan terbesar, baik untuk keperluan pembangunan maupun untuk pemeliharaannya. Dalam keterbatasan ekonomi, kondisi prasarana jalan yang baik tetap dibutuhkan untuk menunjang kegiatan ekonomi.

Bidang perhubungan merupakan bagian dari proses produksi. Inefisiensi perhubungan dalam bentuk kemacetan, lamanya waktu tempuh, serta menurunnya tingkat keamanan lalu lintas menyebabkan meningkatnya biaya operasi yang akan langsung dirasakan oleh masyarakat. Inefisiensi akibat rendahnya pelayanan jalan terjadi karena kapasitas jalan tidak lagi memadai. Untuk menghindari hal tersebut, kegiatan penanganan jalan mulai dari pembangunan, peningkatan, dan pemeliharaan jalan tetap harus dilakukan secara berkelanjutan. Namun kapasitas jalan raya sendiri mempunyai keterbatasan, dimana tingkat pertumbuhan jumlah kendaraan (roda 4 dan roda 2) dan daya angkut kendaraan (terutama kendaraan truk dan sejenisnya) meningkat pesat serta tidak sebanding dengan pertumbuhan kapasitas dan daya dukung jalan. Hal ini tentu saja menuntut suatu pemecahan masalah secara komprehensif dan terpadu, antara lain adalah pengembangan sistem jaringan transportasi, serta pengembangan sistem angkutan barang dan penumpang dengan mengoptimalkan peran antar dan intermoda transportasi.
Oleh karena itu, perlu pembahasan lebih lanjut terkait sistem transportasi yang berkelanjutan, dalam hal ini adalah implementasi dari konsep MRT (Mass Rapid Transit), baik di Indonesia maupun di negara-negara lainnya.


Rumusan Masalah
Transportasi berperan sebagai urat nadi kehidupan ekonomi, sosial budaya politik, dan pertahanan keamanan. Mobilitas manusia yang tinggi dan semakin beragam itu membutuhkan sistem transportasi yang berkelanjutan (sustainable transport system). Sistem transportasi yang tidak bersahabat dengan lingkungan akan memberikan dampak langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan manusia yang meliputi dampak terhadap lingkungan, kesehatan, dan ekonomi.
Untuk menghindari semakin menurunnya kualitas lingkungan dan tetap mendukung mobilitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya maka diperlukan sistem transportasi yang berkelanjutan. Sistem ini sangat erat keterkaitannya dengan jenis kendaraan yang beroperasi, baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor dan termasuk pula di dalamnya sistem pejalan kaki, perencanaan tata ruang/tata kota, jenis bahan bakar yang ramah lingkungan, teknologi pembakaran dan pengendalian gas buangnya, sistem transportasi massal, serta pengaturan lalulintas yang ada. Dalam pembahasan ini, akan lebih difokuskan pada studi tentang implementasi busway yang telah ada di Indonesia sendiri maupun di negara-negara lain.
Dengan demikian, permasalahan yang akan dibahas dalam artikel ini tercantum dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
 Bagaimana implementasi konsep MRT sebagai sistem transportasi yang berkelanjutan terkait bidang perencanaan wilayah dan kota?
 Bagaimana implementasi konsep MRT tersebut di Indonesia maupun di wilayah lainnya?
 Apa alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan transportasi terkait pembangunan berkelanjutan?
 Apa lesson learned yang dapat diambil dari permasalahan-permasalahan yang ada?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terangkum dalam inti permasalahan, yaitu bagaimana implementasi konsep MRT di Indonesia maupun di negara-negara lain sebagai solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan transportasi terkait pembangunan berkelanjutan.


Pembahasan
Sistem Transportasi Berkelanjutan


Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, dan masyarakat) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (Brundtland Report dari PBB, 1987). Pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan, yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan.
Center for Sustainable Development (1997) mendefinisikan sistem transportasi yang berkelanjutan sebagai sistem yang menyediakan akses terhadap kebutuhan dasar individu atau masyarakat secara aman dan dengan cara yang tetap konsisten terhadap kesehatan manusia dan ekosistem, serta konsisten terhadap keadilan masyarakat saat ini dan di masa yang akan datang, selain juga mendukung laju perkembangan ekonomi.
Jadi, sistem transportasi yang berkelanjutan (sustainable transportation) merupakan salah satu aspek keberlanjutan menyeluruh (global sustainability) yang memiliki tiga komponen yang saling berhubungan, yaitu lingkungan, masyarakat, dan ekonomi. Dalam interaksi tersebut transportasi memegang peranan penting, sehingga perencanaan dan penyediaan sistem transportasi harus memperhatikan aspek lingkungan, masyarakat, dan ekonomi.
Terkait dengan transportasi berkelanjutan, terdapat etika-etika yang perlu menjadi pertimbangan dalam proses pembangunan transportasi. Prinsip dasar yang harus diterapkan dalam usaha mencapai terciptanya kota/daerah yang mempunyai sistem transportasi yang berkelanjutan, antara lain:
 Pertama, memberikan kenyamanan hidup masyarakat; seperti aksesibilitas dan mobilitas menjadi lebih baik dari sebelumnya.
 Kedua, meningkatkan keadilan sosial dan ekonomi. Masyarakat, dalam radius pembangunan sarana transportasi atau secara keseluruhan dalam wilayah kota, kabupaten maupun propinsi, selayaknya memperoleh peluang lebih besar untuk mencari penghidupan atau melancarkan usahanya untuk meningkatkan kondisi sosial ekonominya.
 Ketiga, mempunyai kontribusi dan bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah secara ekonomi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
 Keempat, menjamin perkembangan lingkungan yang berkelanjutan.
 Kelima, meminimalkan dampak lingkungan pada tahap perencanaan, pembangunan dan sesudah pembangunan terutama pada tahap pengoperasiannya.

Transportasi yang seimbang merupakan kunci untuk menciptakan lebih banyak ruang terbuka yang hijau karena berkurangnya lahan karena digunakan untuk parkir dan jalan raya. Transportasi umum mengkonsumsi ruang yang jauh lebih sedikit daripada mobil pribadi untuk mengangkut lebih banyak orang.
A.R. Barter Tamim Raad dalam bukunya “Taking Steps: A Community Action Guide to People-Centred, Equitable and Sustainable Urban Transport” menyebutkan, bahwa sistem transportasi berkelanjutan harus memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Aksesibilitas untuk semua orang
Sistem transportasi yang berkelanjutan harus dapat menjamin adanya akses bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk para penyandang cacat, kanak-kanak, dan lansia, untuk mendapatkan kebutuhan dasarnya seperti kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan.
2. Kesetaraan sosial
Sistem transportasi selayaknya tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat tingkat atas, yaitu dengan mengutamakan pembangunan jalan raya dan jalan tol semata. Penyediaan sarana angkutan umum yang terjangkau dan memiliki jaringan yang baik merupakan bentuk pemenuhan kesetaraan sosial, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan pelayanan transportasi yang diberikan.
3. Keberlanjutan lingkungan
Sistem transportasi harus seminimum mungkin memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, sistem transportasi yang berkelanjutan harus mempertimbangkan jenis bahan bakar yang digunakan selain efisiensi dan kinerja dari kendaraan itu sendiri. Kombinasi dan integrasi dengan moda angkutan tak bermotor, termasuk berjalan kaki, dan moda angkutan umum (massal) merupakan upaya untuk mempertahankan keberlanjutan lingkungan dengan meminimalkan dampak lingkungan.
4. Kesehatan dan keselamatan
Sistem transportasi yang berkelanjutan harus dapat menekan dampak terhadap kesehatan dan keselamatan. Secara umum, sekitar 70% pencemaran udara dihasilkan oleh kegiatan transportasi dan ini secara langsung, maupun tidak langsung, memberikan dampak terhadap kesehatan terutama terhadap sistem pernafasan. Di sisi lain, kecelakaan di jalan raya mengakibatkan kematian sekitar 500 ribu orang per tahun dan mengakibatkan cedera berat bagi lebih dari 50 juta lainnya. Jika hal ini tidak ditanggulangi, dengan semakin meningkatnya aktivitas transportasi dan lalu lintas akan semakin bertambah pula korban yang jatuh.
5. Partisipasi masyarakat dan transparansi
Sistem transportasi disediakan untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus diberikan porsi yang cukup untuk ikut menentukan moda transportasi yang digunakan serta terlibat dalam proses pengadaannya. Bukan hanya masyarakat yang telah memiliki fasilitas seperti motor atau mobil yang dilibatkan, melainkan juga mereka yang tidak memiliki fasilitas namun tetap memerlukan mobilitas dalam kesehariannya. Partisipasi ini perlu terus diperkuat agar suara mereka dapat diperhitungkan dalam proses perencanaan, implementasi dan pengelolaan sistem transportasi kota. Transparansi merupakan satu hal penting yang tidak boleh ditinggalkan. Keterbukaan dan ketersediaan informasi selama proses merupakan penjamin terlaksananya sistem yang baik dan memihak pada masyarakat.
6. Biaya rendah dan ekonomis
Sistem transportasi yang berkelanjutan tidak terfokus pada akses bagi kendaraan bermotor semata melainkan terfokus pada seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, sistem transportasi yang baik adalah yang berbiaya rendah (ekonomis) dan terjangkau. Dengan memperhatikan faktor ini, bukan berarti seluruh pelayanan memiliki kualitas yang sama persis. Beberapa kelas pelayanan dapat diberikan dengan mempertimbangkan biaya operasi dan keterjangkauannya bagi kelas masyarakat yang dituju. Bukan biaya rendah yang menjadi kunci semata melainkan ekonomis dan keterjangkauannya.
7. Informasi
Msyarakat harus terlibat secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan serta pengelolaan sistem transportasi. Untuk itu, masyarakat harus memahami latar belakang pemilihan sistem transportasi serta kebijakannya. Ini juga merupakan bagian untuk menjamin proses transparansi dalam perencanaan, implementasi dan pengelolaan transportasi kota.
8. Advokasi
Advokasi merupakan komponen penting untuk memastikan terlaksananya sistem transportasi yang tidak lagi memihak pada pengguna kendaraan bermotor pribadi semata melainkan memihak pada kepentingan orang banyak. Di banyak kota besar, seperti Tokyo, London, Toronto dan Perth, advokasi masyarakat mengenai sistem transportasi berkelanjutan telah mampu mengubah sistem transportasi kota sejak tahap perencanaan. Advokasi dapat dilakukan oleh berbagai pihak dan dalam berbagai bentuk. Penguatan bagi pengguna angkutan umum misalnya, akan sangat membantu dalam mengelola sistem transportasi umum yang aman dan nyaman.
9. Peningkatan kapasitas
Pembuat kebijakan dalam sektor transportasi perlu mendapatkan peningkatan kapasitas untuk dapat memahami paradigma baru dalam pengadaan sistem transportasi yang lebih bersahabat, memihak pada kepentingan masyarakat dan tidak lagi tergantung pada pemanfaatan kendaraan bermotor pribadi semata.
10. Jejaring kerja
Jejaring kerja dari berbagai stakeholder sangat diperlukan terutama sebagai ajang bertukar informasi dan pengalaman untuk dapat menerapkan sistem transportasi kota yang berkelanjutan.

Kota-kota yang sukses, misalkan dari kota kelas menengah Curitiba hingga kota kaya Zurich, telah menemukan bahwa transportasi yang baik tidak harus mahal. Mega-proyek bukanlah solusi yang tepat. Pemerataan dan keadilan sosial menuntut prioritas utama harus diarahkan pada transportasi umum, pejalan kaki, dan kendaraan tidak bermotor yang dapat digunakan oleh setiap orang, termasuk para penyandang cacat.

Konsep MRT Sebagai Pendekatan Transportasi Berkelanjutan

Mass Rapid Transit, yang juga disebut sebagai Angkutan umum, adalah layanan transportasi penumpang, biasanya dengan jangkauan lokal, yang tersedia bagi siapapun dengan membayar ongkos yang telah ditentukan. Angkutan ini biasanya beroperasi pada jalur khusus tetap atau jalur umum potensial yang terpisah dan digunakan secara eksklusif, sesuai jadwal yang ditetapkan dengan rute atau lini yang didesain dengan perhentian-perhentian tertentu, walaupun Mass Rapid Transit dan trem terkadang juga beroperasi dalam lalu lintas yang beragam. Ini dirancang untuk memindahkan sejumlah besar orang dalam waktu yang bersamaan. Contohnya antara lain: Bus Rapid Transit, Heavy Rail Transit, dan Light Rail Transit.
 Heavy rail transit
Sistem heavy rail transit adalah “sistem angkutan menggunakan kereta berkinerja tinggi, mobil rel bertenaga listrik yang beroperasi di jalur-jalur khusus eksklusif, biasanya tanpa persimpangan, dengan bangunan stasiun besar” (TCRP, 1988).

 Light Rail Transit
Light Rail Transit (LRT) adalah sistem jalur kereta listrik metropolitan yang dikarakteristikkan atas kemampuannya menjalankan gerbong atau kereta pendek satu per satu sepanjang jalur-jalur khusus eksklusif pada lahan bertingkat, struktur menggantung, subway, atau biasanya di jalan, serta menaikkan dan menurunkan penumpang pada lintasan atau tempat parkir mobil (TCRP, 1998). Sistem LRT mencakup pula jalur-jalur trem, meskipun perbedaan utama adalah bahwa trem seringkali beroperasi tanpa jalur khusus eksklusif, dalam lalu lintas campuran.

 Metro
Metro merupakan terminologi internasional yang paling umum untuk subway, heavy rail transit, walaupun biasanya juga diterapkan secara umum pada sistem heavy rail transit yang sudah lebih ditingkatkan. “Metro” untuk menggambarkan sistem heavy rail transit perkotaan yang dipisahkan secara bertingkat (grade-separated). Ini adalah jenis MRT termahal per kilometer persegi, namun memiliki kapasitas teoritis tertinggi.

 Sistem kereta komuter
Kereta komuter atau kereta pinggiran merupakan porsi operasional jalur kereta penumpang yang membawa penumpang di dalam wilayah perkotaan, atau antara wilayah perkotaan dengan wilayah pinggiran, namun berbeda dari jenis Metro dan LRT dalam tataran bahwa kereta penumpang secara umum lebih berat, jauhnya jarak rata-rata lebih panjang, dan pengoperasiannya dilakukan di luar jalur-jalur yang merupakan bagian dari sistem jalan kereta dalam sebuah wilayah.

 Bus Rapid Transit
Banyak kota telah mengembangkan variasi tema tentang pelayanan bus yang lebih baik serta konsep tempat tinggal dalam kumpulan karya terbaik daripada sebuah definisi yang tegas. Bus Rapid Transit adalah satu bentuk angkutan berorientasi pelanggan dan mengkombinasikan stasiun, kendaraan, perencanaan dan elemen-elemen sistem transportasi pintar ke dalam sebuah sistem yang terpadu dan memiliki satu identitas unik. Ciri-ciri Bus Rapid Transit termasuk koridor busway pada jalur terpisah, sejajar atau dipisahkan secara bertingkat, dan teknologi bus yang dimodernisasi. Meskipun demikian, terlepas dari pemilahan busway, sistem BRT secara umum meliputi:
• Menaikkan dan menurunkan penumpang dengan cepat
• Penarikan Ongkos yang efisien
• Halte dan stasiun yang nyaman
• Teknologi bus bersih
• Integrasi moda
• Identitas pemasaran modern
• Layanan pelanggan yang sangat baik

Bus Rapid Transit merupakan lebih dari sekadar operasional sederhana di atas jalur eksklusif bus atau busway. Menurut studi terkini tentang busway sejajar (Shen et. al., 1998), hanya setengah dari kota-kota yang memiliki busway telah mengembangkannya sebagai bagian dari paket tindakan sistematis dan komprehensif dari jaringan angkutan massal kota yang akan kami identifikasi sebagai sistem BRT.

Pengentasan Kemiskinan
Dalam laporan World Bank Urban Transport Strategy Review, Allport (2000) menunjuk pada sebuah kebijakan MRT bagi kota-kota berkembang:
Pada pusat kebijakan MRT bagi kota-kota berkembang terdapat konflik nyata antara melakukan pengentasan kemiskinan, yang untuk itu sangat diperlukan layanan yang terjangkau, dan memikat pengguna mobil, yang bagi mereka kualitas layanan adalah sangat penting.

Mass Rapid Transit dapat memainkan peranan penting dalam mengurangi atau memperburuk kemiskinan. Orang-orang miskinlah yang paling tergantung pada angkutan umum sebagai akses ke pekerjaan dan layanan. Di beberapa kota masyarakat miskin kota mengeluarkan hingga 30% dari pendapatannya untuk transportasi. Orang-orang miskin biasanya menetap di wilayah dengan harga sewa rendah pada pinggiran kota dan di beberapa kasus memakan waktu hingga 2 sampai 4 jam di perjalanan setiap harinya. Yang sangat penting, dana publik yang tidak dialirkan ke pembangunan jalan dan kereta dapat digunakan untuk perbaikan kesehatan, pendidikan, lahan umum, dan kualitas hidup masyarakat miskin kota.
Konsentrasi pada jenis transportasi orang miskin menjadi panggilan untuk menyediakan bentuk-bentuk transportasi umum yang terjangkau bagi mereka, meskipun transportasi umum sebaiknya tidak boleh ditujukan hanya untuk orang-orang miskin, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kota-kota makmur di Eropa dan Asia. Kota-kota besar di dunia berkembang merupakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan magnet bagi orang-orang miskin dari pinggiran, yang seringkali hidup di pinggiran kota dan di sepanjang jalur arteri. Mereka terjangkit polusi udara dan suara.
Kemungkinan-kemungkinan angkutan modern akan menyediakan akses lebih cepat ke tempat-tempat kerja dan memungkinkan lebih banyak orang bekerja. MRT yang berada di Kairo, Mexico, Bogotá, dan di manapun digunakan secara ekstensif oleh pengguna yang miskin dan mengambil keuntungan dari akses unik ke pusat kota dan karenanya memungkinkan banyak tambahan lapangan pekerjaan.

Dampak Lingkungan
Energi yang digunakan oleh aneka jenis transportasi berhubungan erat dengan emisi. Kereta adalah jenis MRT yang paling ramah lingkungan dalam hal penggunaan energi per orang per kilometer, meskipun hanya di tempat-tempat yang sangat padat. Emisi sangat berbeda-beda tergantung pada sumber tenaga yang digunakan untuk membangkitkan penarik listrik (pada kereta), dan teknologi bus serta bensin dalam sistem BRT. Selain itu, tidak seluruh sistem kereta di negara berkembang bertenaga listrik. Oleh karena itu, terkadang terjadi dampak emisi lokal.
Berdasarkan perspektif lingkungan, bagaimanapun, poin utama untuk dicatat yaitu seluruh sistem MRT secara virtual menawarkan keuntungan lingkungan bagi perluasan ketika perjalanan digantikan oleh kendaran bemotor pribadi. Mungkin yang terpenting dalam jangka panjang, dalam rangka pengurangan emisi, adalah dampak sistem MRT pada pemisahan moda, atau persentase orang yang melakukan perjalanan dengan transportasi umum dan pribadi. Berdasarkan pengalaman ini, tampak bahwa sistem-sistem BRT di kota-kota berkembang seperti Bogotá dan Kuritiba yang memberdayakan angkutan umum untuk memelihara atau bahkan meningkatkan bagi hasil dibandingkan kepada transportasi swasta. Di kota-kota lain angkutan umum cenderung berkurang, terkait dengan dampak negatif lingkungan bukan hanya dalam hal emisi polutan setempat, tetapi juga dalam hal gas rumah tangga, suara, dan intruisi visual.



Studi Kasus
TransJakarta atau umum disebut Konsep MRT adalah sebuah sistem transportasi bus cepat di Jakarta, Indonesia. Sistem ini dimodelkan berdasarkan sistem Transmilenio yang sukses di Bogotá, Kolombia. Bus TransJakarta (Tije) memulai operasinya pada 15 Januari 2004 dengan tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta. Untuk mencapai hal tersebut, bus Tije diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain TransJakarta). Agar terjangkau oleh masyarakat maka harga tiket disubsidi oleh pemerintah daerah.
Pada saat awal beroperasi, TransJakarta mengalami banyak masalah, salah satunya adalah ketika atap salah satu busnya menghantam terowongan rel kereta api. Selain itu, banyak dari bus-bus tersebut yang mengalami kerusakan, baik pintu, tombol pemberitahuan lokasi halte, hingga lampu yang lepas. Selama dua minggu pertama, dari 15 Januari 2004 hingga 30 Januari 2004, bus Tije memberikan pelayanan secara gratis. Kesempatan itu digunakan untuk sosialisasi terhadap warga Jakarta untuk pertama kalinya mengenal sistem transportasi yang baru. Lalu, mulai 1 Februari 2005, bus Tije mulai beroperasi secara komersil.
Tije ini merupakan awal yang bagus dalam memulai suatu sistem transportasi massal yang berkelanjutan. Dengan adanya berbagai macam alternatif dalam konsep MRT, alternatif busway inilah yang paling mungkin dilakukan oleh negara berkembang seperti Indonesia. Dengan dimulainya konsep MRT untuk mengatasi berbagai macam permasalahan transportasi di Indonesia maka sangat dimungkinkan bahwa sistem angkutan massal lainnya dalam konsep ini juga akan segera terwujud. Kendala yang dihadapi sekarang hanyalah keberanian pengambilan kebijakan oleh pihak pemerintah, kerjasama swasta, serta partisipasi dari masyarakat untuk ikut menyukseskan kebijakan pemerintah tersebut. Dengan adanya kerjasama tersebut dimungkinkan terciptanya kolaborasi sinergis dalam mewujudkan suatu sistem transportasi massal yang dapat mencakup semua kalangan dan memiliki dampak minimum terhadap lingkungan.
Pada dasarnya, perbaikan sistem angkutan umum yang tepat adalah dengan merubah pola penyelenggaraan angkutan umum secara menyeluruh. Komponen utama yang harus dirubah adalah:
a. sistem pengoperasian yang memberikan prioritas yang tinggi terhadap angkutan umum,
b. manajemen pengoperasian yang memberikan jaminan penyelenggaraan berbasis pada persaingan usaha yang sehat yang mengutamakan pada tingginya mutu pelayanan dan keberlanjutan usaha, serta
c. jaringan angkutan umum yang mampu menjamin aksesibilitas seluruh warga kota dan terintegrasi dengan sistem tata kota hingga pada akhirnya membuat Jakarta menjadi kota yang sangat nyaman untuk dihuni.

Perubahan yang tepat untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang dapat menambah kemacetan dapat dimulai dengan membangun suatu sistem angkutan umum massal cepat (MRT yang dapat menyediakan pelayanan penumpang dalam jumlah besar). Dari sekian banyak pilihan teknologi yang ada, Konsep MRT yang merupakan salah satu jenis sistem MRT berbasis jalan raya, sangat tepat diimplementasikan di berbagai kota besar di Indonesia sebagai negara berkembang. Hal ini disebabkan karena:
a. Pengoperasian Konsep MRT memberikan prioritas bagi angkutan umum dalam pemanfaatan ruang jalan melalui penyediaan jalur khusus untuk Konsep MRT.
b. Kapasitasnya bersifat fleksibel dari mulai belasan ribu hingga dapat mendekati kapasitas metro (MRT berbasis rel) sebesar tiga puluhan ribu orang per arah per jam.
c. Biaya investasi pembangunan yang dibutuhkan relatif sangat rendah dibandingkan teknologi MRT lainnya. Biaya investasi Konsep MRT hanya berkisar 0,5-0,8 juta dolar per-km, sedangkan metro berbasis jalan rel membutuhkan 20-35 juta dolar per-km. Sehingga, biaya investasi Konsep MRT dapat dipenuhi dari anggaran pemerintah tanpa membuat utang baru pada negara lain. Selain itu, rendahnya nilai investasi dapat mempercepat pencapaian titik impas dan nilai tarif layanan dapat ditekan.

Namun keberhasilan sistem ini Konsep MRT mempersyaratkan:
a. Adanya integrasi dengan sistem pendukung lain seperti jaringan pengumpan (feeder system) dan sistem transportasi kendaraan tidak bermotor terutama fasilitas jalur sepeda dan pejalan kaki.
b. Adanya institusi penyelenggaraan angkutan umum yang sehat dengan mekanisme perijinan yang transparan dan mengutamakan tinginya kualitas pelayanan.
c. Adanya persiapan yang matang (menyeluruh) dan tahapan yang tersosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Intensitas dan kontinuitas sosialisasi ini harus tetap terjaga selama masa perencanaan hingga akhir pelaksanaan. Materi sosialisasi ini tidak hanya menyangkut hal-hal teknis semata tetapi juga termasuk latar balakang yang mendasari tiap tindakan yang diambil dan upaya antisipasi pemerintah terhadap setiap konsekuensi yang harus dihadapi masyarakat terkait dengan pelaksanaannya.


Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya, dapat dirumuskan kesimpulan bahwa konsep Mass Rapid Transit (MRT) merupakan suatu konsep transportasi berkelajutan yang dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi pengentasan kemiskinan maupun dampak terhadap lingkungan. Berbagai macam alternatif yang ditawarkan konsep ini memiliki pertimbangan-pertimbangan tersendiri dalam pengaplikasiannya, terutama di negara-negara berkembang sebagaimana Indonesia.
Di Indonesia, konsep MRT ini telah mulai dilakukan dengan adanya TransJakarta (Tije) yang telah beroperasi mulai tahun 2004 di Jakarta. Sistem transportasi ini merupakan awalan dalam penerapan konsep MRT secara keseluruhan dengan pengutamaan angkutan umum, kapasitas fleksibel, dan investasi relatif rendah. Hal ini dikarenakan, jika menginginkan kelancaran transportasi harus melakukan pembenahan secara menyeluruh. Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan secara seketika, mengingat kondisi Indonesia saat ini. Penerapan sistem ini dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan transportasi secara berkelanjutan, tetapi dengan syarat adanya intregasi dengan sistem pendukung lainnya, adanya institusi penyelenggara, dan adanya persiapan yang matang serta sosialisasi terhadap masyarakat. Dalam pelaksanaannya, peran serta masyarakat sangatlah penting untuk menyukseskan kebijakan pertransportasian di Indonesia demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.


Lesson Learned
Dalam pembahasan ini, didapatkan suatu lesson learned, diantaranya adalah:
 Konsep Mass Rapid Transit (MRT) merupakan alternatif yang tepat dalam mengatasi permasalahan transportasi di Indonesia, dengan tetap memberhatikan kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya, serta dampaknya terhadap lingkungan.
 Busway yang merupakan salah satu sistem dalam konsep MRT merupakan kebijakan awalan yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Sistem ini akan lebih berhasil jika didukung dengan adanya integrasi dengan sistem pendukung lainnya, adanya institusi penyelenggara, dan adanya persiapan yang matang serta sosialisasi terhadap masyarakat untuk ikut serta menyukseskan kebijakan tersebut.




Daftar Pustaka
http://www.bapekojakartapusat.go.id/index.php/q/node/24.htm
http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/11/12/op3.htm
http://www.jawatengah.go.id/loader2.php/SUB/prog_pemb&DATA/ekbang_perhubungan&SEKTOR/ekbang.htm
TransJakarta: Busway. Diakses pada 2 Maret 2008 dari http://www.id.wikipedia.org/wiki/TransJakarta.htm
Wright, Lloyd dan Fjellstrom, Karl. 2002. Opsi Angkutan Massal. Institut for Transportation and DevelopmentPolicy dan GTZ: Roßdorf, Germany.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar